Pertumbuhan 5,29% Triwulan II-2026, Konsumsi Pemerintah Naik 15,97%

Kepala BPS memaparkan data pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 dalam konferensi pers di Jakarta.
Penulis: Sutomo
Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:21:31 WIB

NUSAPERDANA.COM — Konsumsi pemerintah tumbuh 15,97% secara tahunan pada triwulan II-2026, jauh melampaui komponen pengeluaran lain dalam struktur produk domestik bruto. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi keseluruhan 5,29% pada periode yang sama, melambat dari 5,61% di triwulan sebelumnya. Angka itu dinilai belum cukup menggambarkan kualitas pertumbuhan karena pasar kerja dan kemiskinan perdesaan bergerak lebih lambat.

BPS merilis data pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 pada 5 Agustus. Bank Indonesia mengaitkan lonjakan konsumsi pemerintah dengan realisasi belanja pegawai, termasuk pencairan gaji ke-13, serta belanja barang dan jasa untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

BPS menyebut ada efek basis rendah karena konsumsi pemerintah justru terkontraksi 0,33% pada triwulan II-2025. Sebagian dari kecepatan yang tampak mencerminkan perbandingan dengan tahun lalu yang lemah, bukan lompatan kapasitas produksi.

Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Masih Jadi Penopang Utama

Dalam rincian yang sama, konsumsi rumah tangga menyumbang 2,67 poin persentase terhadap pertumbuhan dan pembentukan modal tetap bruto 2,06 poin. Keduanya di atas sumbangan konsumsi pemerintah sebesar 1,07 poin. Investasi sendiri tumbuh 6,87%.

Bank Indonesia menghubungkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga 5,06% dengan momentum libur sekolah dan hari besar keagamaan. Dorongan musiman itu belum cukup untuk menyimpulkan daya beli membaik secara struktural.

Pengangguran Turun Tipis, Pekerja Penuh Waktu Baru 66,77%

Survei Angkatan Kerja Nasional Mei 2026 mencatat tingkat pengangguran terbuka 4,65%, hanya turun 0,03 poin dari Februari. Pada Februari, jumlah penganggur secara absolut berkurang sekitar 35 ribu orang dibanding setahun sebelumnya.

Angkatan kerja bertambah 1,86 juta orang, sementara hanya 66,77% pekerja yang bekerja penuh waktu. Rata-rata upah buruh naik dari Rp3,09 juta pada Februari 2025 menjadi Rp3,29 juta setahun kemudian dan Rp3,39 juta pada Mei 2026.

Pengangguran kelompok usia 15–24 tahun mencapai 16,36%. Ekonomi yang tumbuh di atas 5% belum otomatis menghasilkan pekerjaan yang pasti dan berpenghasilan memadai bagi angkatan kerja muda.

Kemiskinan Turun ke 8,07%, tapi Desa Hampir Tidak Bergerak

Rilis BPS menunjukkan kemiskinan turun menjadi 8,07% atau 22,93 juta orang pada Maret 2026. Angkanya berkurang 0,92 juta orang dibanding Maret 2025.

Di balik rata-rata itu, kemiskinan perdesaan sejak September 2025 hanya turun dari 10,72% menjadi 10,67%. Kemiskinan perkotaan turun dari 6,60% menjadi 6,34%, sementara rasio gini naik 0,005 poin ke 0,368.

MBG Jadi Ujian Kualitas Belanja Negara

Program Makan Bergizi Gratis ikut mendorong belanja pemerintah dan berpeluang menjadi jembatan antara konsumsi negara dan pendapatan desa. Syaratnya, pasokan bahan pangan benar-benar dibeli dari petani, peternak, nelayan, dan koperasi setempat dengan harga serta kepastian yang wajar.

Jika tidak, anggaran besar akan berputar di rantai pasok yang jauh dari desa dan nilai tambahnya bocor. Padahal desa adalah tempat kemiskinan paling lambat turun.

Tujuan memperbaiki gizi anak adalah investasi sumber daya manusia yang sah. Kelayakannya tetap harus diuji dengan biaya per penerima, mutu dan keamanan pangan, serta dampaknya pada kesehatan dan hasil belajar.

Setiap rupiah yang dipakai di program ini memiliki biaya peluang yang dapat menghasilkan manfaat lebih besar di pendidikan, kesehatan, atau infrastruktur.

Yang Menentukan Dua Tahun ke Depan

Penilaian atas dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka bergantung pada kesediaan pemerintah memperlakukan belanja sebagai alat memperbesar kemampuan warga menghasilkan. Bukan sekadar menyalurkan manfaat.

Pemerintah perlu membuka data biaya dan hasil program secara berkala, mengoreksi yang tidak efektif tanpa menunggu kritik menumpuk, dan memastikan perlindungan warga rentan berjalan bersama pembukaan kesempatan kerja serta usaha.

Pertumbuhan yang dibeli dengan belanja negara tetap pertumbuhan. Pertumbuhan yang berkualitas adalah yang masih berdiri ketika anggaran negara tidak lagi bisa menopangnya.

Reporter: Sutomo