Berikan Bantuan Untuk Korban Kebakaran di Pulau Kijang, Mitra SPPG BGN se-Inhil: Ini Panggilan Kemanusiaan

Jumat, 17 April 2026

Nusaperdana.com, Reteh - Di tengah luka yang masih menganga akibat amuk si jago merah di Kelurahan Pulau Kijang, Kecamatan Reteh, hadir uluran tangan penuh cinta dari anak bangsa. Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Badan Gizi Nasional (BGN) se-Kabupaten Indragiri Hilir datang membawa harapan.

Bukan sekadar mengurusi piring-piring gizi bagi tunas bangsa di sekolah, mereka melangkah lebih jauh. Menembus batas tugas, merengkuh duka saudara sebangsa yang rumahnya luluh dilalap api beberapa waktu lalu.

Sebanyak 61 paket sembako diserahkan langsung kepada 61 kepala keluarga penyintas kebakaran yang menghanguskan ratusan rumah. Setiap bungkusnya bukan hanya beras, minyak, dan gula, melainkan doa dan peluk hangat dari segenap Mitra SPPG se-Inhil.

Syahroni, salah satu perwakilan Mitra SPPG se-Inhil, menegaskan bahwa langkah ini adalah panggilan jiwa. Panggilan untuk membuktikan bahwa merah putih tidak hanya berkibar di tiang, tetapi juga mengalir di nadi kepedulian.

"Ini menjadi momentum bahwa Mitra SPPG se-Inhil bukan hanya mengurusi gizi bagi anak sekolah. Tetapi juga peduli dan terlibat dalam tugas kemanusiaan," ungkap Syahroni dengan mata berkaca.

Kehadiran mereka di Reteh adalah sumpah yang diikrarkan tanpa kata: bahwa tidak ada saudara yang dibiarkan berjuang sendiri ketika musibah datang menyapa. Dari Inhil, semangat gotong royong kembali ditegaskan sebagai napas Indonesia.

Bagi para korban, bantuan ini adalah semangat baru. Pengingat bahwa di balik puing dan arang, masih ada tangan-tangan tulus yang mengulurkan asa agar mereka bangkit kembali.

Mitra SPPG se-Inhil berharap, meski tak seberapa, paket sembako itu mampu meringankan beban, mengganjal lapar, dan meneguhkan hati para korban musibah kebakaran.

"Ada 61 paket sembako yang kita berikan untuk 61 KK yang terkena musibah kebakaran ini," pungkas Syahroni.

Dari Pulau Kijang, kita belajar bahwa Indonesia tidak pernah kehabisan cinta. Bahwa di negeri ini, duka satu adalah duka semua, dan bangkitnya satu adalah bangkitnya kita bersama.