
Foto Belman Junaidi,.SE,.MM Di Pakultas UNILAK
Nusaperdana.com,Pekanbaru— Malam sering kali menjadi saksi. Ketika sebagian orang memilih beristirahat setelah lelah bekerja, Belman Junaidi justru membuka kembali laptop dan tumpukan jurnal. Di tengah kesibukannya bekerja di dunia pelayanan kesehatan, ia menuntaskan satu janji pada dirinya sendiri: menyelesaikan pendidikan Strata Dua.
Pada 4 Februari 2026, Belman Junaidi resmi dinyatakan lulus dari Program Magister Manajemen konsentrasi Sumber Daya Manusia, Universitas Lancang Kuning (UNILAK) Pekanbaru. Sebuah pencapaian yang lahir dari proses panjang, penuh disiplin, pengorbanan waktu, dan konsistensi yang tidak mudah.
Perjalanan itu dijalani bersamaan dengan aktivitas profesionalnya. Dunia kerja yang menuntut ketepatan, kecepatan, dan tanggung jawab tinggi tak membuatnya menyerah pada mimpi akademik. Sejumlah rumah sakit pernah menjadi tempat Belman mengabdikan diri, mulai dari RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru, RS PMC, RS Thursina Duri, hingga RS Nurlima Lipat Kain. Di sela jadwal kerja yang padat, ia tetap menyisihkan waktu untuk kuliah, penelitian, dan penulisan tesis.
Kesungguhan tersebut berpuncak pada penyusunan tesis yang dibimbing oleh Assoc. Prof. Dr. Adi Rahmat, S.E., M.M. dan Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M.. Ujian tesis berlangsung di hadapan dewan penguji yang terdiri dari Prof. Junaidi, S.S., M.Hum., Ph.D.,(Selaku Rektor UNILAK), serta Dr. Imran Al Ucok Nasution, S.T., M.M.
Penelitian Belman dilakukan di Klinik Khaira, Klinik Mandau, dan Klinik Reza di Duri, dengan Judul “Strategi Adopsi Teknologi Kesehatan Digital di Klinik Pratama Duri dengan Pendekatan Technology–Organization–Environment (TOE)”. Melalui riset tersebut, Belman berupaya memberi kontribusi nyata bagi penguatan manajemen dan transformasi digital di layanan kesehatan tingkat pertama—bidang yang selama ini ia geluti secara langsung.
Bagi Belman, gelar Magister bukan sekadar titel di belakang nama. Ia adalah simbol keteguhan, bukti bahwa keterbatasan waktu bukan alasan untuk berhenti belajar.
“Bekerja sambil kuliah bukan hal yang mudah. Ada lelah, ada rasa ingin menyerah. Tapi saya percaya pendidikan adalah investasi jangka panjang,” ujarnya penuh keyakinan.
Di balik keberhasilan itu, ada dukungan yang tak terhitung. Belman secara khusus menyampaikan terima kasih kepada istri tercinta, keluarga besar, serta semua pihak yang setia memberikan doa, semangat, dan pengertian selama proses pendidikan pascasarjana berlangsung.
Kisah Belman Junaidi menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak selalu ditempuh di ruang yang ideal. Kadang ia tumbuh di sela kesibukan, di antara tuntutan kerja, dan dalam sunyi malam. Namun dari sanalah lahir komitmen yang paling jujur—tentang mimpi, pengorbanan, dan keyakinan bahwa belajar tak pernah mengenal kata terlambat.**