NUSAPERDANA.COM — National Disaster Risk Reduction and Management Authority (NDRRMA) Nepal mencatat jumlah korban tewas telah menembus angka 1.000 orang. Bencana yang menerjang kawasan pegunungan dan permukiman di sekitar Kathmandu ini juga menyebabkan 583 warga negara asing hilang, sebagian besar merupakan pendaki yang sedang berada di jalur pendakian. Dampak bencana melintas hingga ke wilayah otonom Tibet, di mana CGTN melaporkan sedikitnya 16 korban jiwa dan ratusan orang hilang.
Gletser Langtang Lirung Runtuh, Bukan Gempa
Analisis pencitraan satelit yang dipublikasikan The Guardian membantah spekulasi awal yang mengaitkan bencana dengan gempa bumi magnitudo 4,4. Data terbaru mengonfirmasi bahwa runtuhnya gletser di lereng utara Gunung Langtang Lirung menjadi pemicu utama. Benturan massa es menghantam batuan di bawahnya hingga menghasilkan guncangan yang terekam alat seismograf sebagai gempa magnitudo 5,2.
Dua hari sebelum gletser runtuh, stasiun pemantau mencatat suhu permukaan tanah di area tersebut berada di titik tertinggi dalam dua tahun terakhir. Dr. Hamish Pritchard, pakar gletser dari British Antarctic Survey, menjelaskan lonjakan suhu udara ekstrem telah melemahkan lapisan salju penutup serta melelehkan ikatan es yang menjadi perekat alami antara gletser dan dinding batu pegunungan. Air cair yang mengisi retakan-retakan dalam turut mempercepat proses keruntuhan.
Perawat di Kathmandu Kehilangan Sepuluh Anggota Keluarga
Kalpana Shrestha, perawat berusia 35 tahun di Kathmandu, tanpa lelah mengunggah foto-foto anggota keluarganya ke Facebook, YouTube, dan WhatsApp. Sepuluh orang dari keluarga intinya, termasuk dua saudara perempuan dan tiga keponakan yang masih kecil, hilang setelah banjir bandang menerjang kota Betrawati, sekitar 90 kilometer dari ibu kota Nepal. Air bah, lumpur, dan puing-puing meratakan kota dalam hitungan menit. Hingga kini, setiap pesan minta tolong yang ia kirimkan tak kunjung mendapat respons.
Proses evakuasi dan pemulihan jenazah berjalan lambat di tengah akses jalan yang putus total. Jembatan gantung hancur dan infrastruktur komunikasi lumpuh, memutus jalur pasokan logistik utama negara.
Nepal Hanya Sumbang 0,1 Persen Emisi Global
Bencana ini mengemuka di tengah peringatan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) bahwa wilayah kriosfer—tundra, lapisan es abadi, hingga gletser pegunungan tinggi—semakin tidak stabil seiring kenaikan suhu global. Pemanasan di kawasan alpine dan kutub berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan rerata global yang kini mendekati ambang kritis 1,5 derajat Celsius di atas level praindustri.
Nepal menempati urutan ke-95 sebagai penyumbang emisi karbon dunia dengan kontribusi akumulatif kurang dari 0,1 persen dari total gas rumah kaca global. Sebagai pembanding, Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan Rusia menyumbang lebih dari separuh emisi global. Jurang tanggung jawab ini menegaskan dimensi politik dari krisis iklim yang dialami negara-negara berkembang.
Shashi Chaudhary, Direktur Nepal Environmental Research Institute (NERI), menegaskan bencana yang menghantam negaranya merupakan persoalan keadilan sosial dan akuntabilitas politik global. Nepal telah membangun ketahanan iklim domestik melalui Rencana Adaptasi Nasional, memperkuat jaringan kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas, serta menerapkan protokol tindakan antisipatif. Namun, kata Chaudhary, negara dengan sumber daya terbatas tidak dapat menangani persoalan ini seorang diri.
“Namun, sebuah negara dengan sumber daya yang terbatas tidak dapat melakukannya sendirian,” tegas Chaudhary. Negara-negara yang secara historis memiliki emisi lebih besar, menurut dia, seharusnya mengambil tanggung jawab lebih besar dan bertindak proaktif.