Pencarian

Pertamina Olah Minyak Jelantah Dapur MBG Jadi Bioavtur, Pasokan Lewat Skema B2B

Jumat, 11 September 2026 • 07:02:01 WIB
Pertamina Olah Minyak Jelantah Dapur MBG Jadi Bioavtur, Pasokan Lewat Skema B2B
Pertamina Patra Niaga mengumpulkan minyak jelantah dari SPPG melalui skema B2B untuk bahan baku bioavtur.

NUSAPERDANA.COM — Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro menyatakan pengumpulan used cooking oil (UCO) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) merupakan bagian dari skema B2B yang tengah digenjot perseroan. Skema ini dinilai menghasilkan volume pasokan lebih besar dibandingkan mengandalkan rumah tangga.

"Kemudian juga skema business-to-business, jadi (pasokannya) dari SPPG, Horeka, KDMP," ujar Hermawan dalam acara media gathering di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9).

Pengadaan UCO jalur B2B dilakukan melalui kesepakatan pengadaan atau procurement agreement dan penyediaan kotak pengumpulan UCO Collection Box. Tiga pemasok utama yang disebut Hermawan adalah SPPG, sektor hotel-restoran-kafe (horeka), dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

Jalur B2C Tetap Jalan lewat Dispenser di Kilang dan MOR

Pertamina tidak menutup jalur business-to-customer (B2C). Masyarakat, komunitas, hingga pegawai internal atau perwira masih bisa menyetor minyak jelantah langsung.

"Ada dispenser-dispenser untuk mengumpulkan, baik itu di kilang maupun di MOR (Marketing Operation Region), kemudian nantinya akan kita gunakan," kata Hermawan.

Kombinasi dua jalur ini membuat pasokan UCO tidak bergantung pada satu sumber. Sektor horeka dan dapur MBG dinilai punya volume limbah minyak goreng yang lebih stabil dibandingkan rumah tangga.

Perjalanan Bioavtur Pertamina Sejak 2020

Pengembangan bioavtur ramah lingkungan oleh Pertamina bukan proyek semalam. Sejak akhir 2020, perseroan memakai bahan baku minyak inti sawit yang telah dimurnikan atau Refined, Bleached, and Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO).

Berikut tonggak perjalanannya:

  • Desember 2020: uji coba co-processing perdana di Kilang Cilacap dengan injeksi 2 persen RBDPKO.
  • Februari 2021: kadar injeksi dinaikkan menjadi 2,4 persen.
  • Oktober 2021: hasil racikan diujicobakan pada penerbangan pesawat CN-235 rute Jakarta–Bandung.
  • Pertengahan 2023: Pertamina mulai memproduksi SAF untuk uji coba penerbangan komersial.
  • September 2023: bioavtur menerbangkan Boeing 737-800NG Garuda Indonesia rute Jakarta–Solo.
  • Paruh kedua 2023: perseroan mengantongi sertifikasi Awareness System.
  • 2024: penggunaan minyak jelantah atau UCO dimulai, disertai uji lapangan intensif dan sertifikasi ISCC CORSIA serta sertifikasi unit produksi Treated Distillate Hydrotreating (TDHT) di Kilang Cilacap.
  • 2025: ekosistem SAF diluncurkan, produksi perdana U-SAF di Kilang RU IV Cilacap bergulir Juli–Agustus 2025.

Fokus 2026: Jaga Stabilitas Kualitas, Bukan Lagi Uji Coba

Setelah fasilitas resmi memproduksi bioavtur secara massal, fokus perusahaan pada 2026 dan seterusnya bergeser ke perawatan atau maintenance. Tujuannya menjaga stabilitas kualitas produk agar memenuhi standar penerbangan internasional.

Bagi industri aviasi nasional, langkah ini membuka opsi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan sekaligus memanfaatkan limbah domestik. Namun skala produksi masih bergantung pada konsistensi pasokan UCO dari SPPG, horeka, dan KDMP.

Investasi mengandung risiko.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow news.nusaperdana.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks