NUSAPERDANA.COM — Pemandangan itu selalu familiar. Di lorong supermarket, rak-rak dipenuhi kotak susu formula dengan warna cerah dan janji nutrisi. Ibu memegang satu kaleng, membaliknya, membaca label. Lalu berhenti. Pertanyaan yang sama muncul: sebenarnya susu ini diproses di mana, dan dari sumber apa?
Kesadaran ini bukan lagi arus kecil. Para orang tua muda, terutama ibu, kini menuntut lebih dari sekadar kandungan gizi pada kemasan. Mereka ingin menelusuri jejak bahan baku hingga proses pengolahannya berlangsung. Isu ini mengemuka dalam acara Willow Baby Expo (WILBEX) 2026 di Grand City Surabaya pada 3-6 September lalu.
Jejak yang Membangun Kepercayaan
Lucky Zheng, Marketing Director FEIHE AceKid Indonesia, menegaskan satu hal pada para orang tua: memahami produk berarti menelusuri asal-usulnya. Bukan berhenti pada daftar vitamin dan mineral yang tercetak rapi di belakang kaleng.
"Orang tua tidak hanya perlu mengetahui kandungan susu formula, tetapi juga memahami dari mana sumber susunya dan bagaimana proses produksinya. Keterbukaan informasi penting agar orang tua dapat memilih secara lebih cermat," kata Lucky di Surabaya, Kamis (3/9/2026).
Untuk menjawab kebutuhan ini, kampanye "Cek Transparansi" digagas. Lewat fitur QR code pada kemasan, ibu dapat memindai dan menelusuri perjalanan susu secara digital: dari peternakan, pengolahan, hingga produk jadi di tangan mereka.
"Transparansi merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan. Kami ingin orang tua memahami perjalanan susu sejak dari sumber hingga menjadi produk yang dikonsumsi anak," ujarnya.
Kacamata Chef untuk Memilih Susu
Arnold Poernomo membawa perspektif berbeda. Sebagai Brand Ambassador AceKid sekaligus chef profesional, ia terbiasa menilai kualitas dari hulunya, bukan sekadar tampilan akhir.
"Sebagai chef, saya terbiasa melihat bahan bukan hanya dari hasil akhirnya, tetapi juga dari mana bahan tersebut berasal. Setelah menjadi orang tua, cara pandang itu semakin penting karena kita ingin memahami apa yang dikonsumsi anak," kata Arnold.
Stefani Gabriela, content creator dan ibu asal Surabaya, punya pengalaman serupa. Di tengah kebingungan memilih dari puluhan produk, ia justru menemukan ketenangan saat memverifikasi langsung sumber susu yang akan diberikan pada anaknya.
"Menurut saya penting untuk tidak hanya melihat iklan atau klaim pada kemasan. Setelah melihat langsung sumber susu dan proses produksinya, saya jadi lebih memahami pentingnya mengetahui perjalanan produk sebelum memilihnya," ujar Stefani.
ASI Tetap di Posisi Pertama
Di tengah gencarnya edukasi transparansi produk, satu prinsip tidak tergoyahkan. Para pakar dan pelaku industri nutrisi bersepakat: Air Susu Ibu (ASI) tetap sumber nutrisi paling sempurna untuk bayi.
Susu formula hadir sebagai pendukung, bukan pengganti utama. Produk ini hanya diberikan ketika kondisi tertentu menghalangi pemberian ASI eksklusif. Konsultasi dengan dokter anak menjadi langkah wajib sebelum memutuskan jenis formula yang tepat.
Empat Langkah Cermat Sebelum Membeli
Ibu dapat menerapkan langkah praktis untuk memastikan produk susu yang dipilih benar-benar berkualitas:
- Balik kalengnya, baca asal negaranya. Jangan hanya fokus pada protein atau DHA. Cek juga dari negara mana sumber susu berasal dan bagaimana standar pengelolaannya.
- Manfaatkan fitur QR code. Jika merek menyediakan penelusuran digital rantai pasok, gunakan. Ini cara termudah melacak jejak produksi secara transparan.
- Cocokkan komposisi dengan usia anak. Kandungan gizi harus selaras dengan kebutuhan tumbuh kembang. Susu untuk bayi di bawah satu tahun berbeda dengan batita yang lebih aktif.
- Jadikan dokter anak sebagai mitra diskusi. Informasi dari tenaga kesehatan tetap paling akurat untuk menilai apakah anak membutuhkan formula khusus atau tidak.
Pada akhirnya, ketenangan ibu adalah kuncinya. Dengan informasi yang utuh dan transparan, Ibu dapat melangkah dengan keyakinan: memilih yang terbaik, bukan yang paling keras beriklan.