NUSAPERDANA.COM — Penurunan ini terjadi di tengah aksi jual aset safe haven setelah serangan militer AS terhadap kapal tanker Iran memicu kenaikan harga minyak mentah. Kondisi tersebut memicu spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan sikap hawkish lebih lama, yang cenderung melemahkan daya tarik emas sebagai aset tanpa bunga.
Eskalasi Timur Tengah dan Efek Berantai ke Harga Minyak
Bloomberg melaporkan pada Selasa (15/4) bahwa pasukan AS menyerang sejumlah kapal tanker Iran yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Serangan ini merupakan respons atas upaya serangan rudal terhadap kapal perang AS di kawasan tersebut.
Kantor berita semi-resmi Mehr Iran juga mengonfirmasi adanya ledakan di Pulau Kharg. Di sisi lain, Arab Saudi menyatakan operasi di beberapa fasilitas energinya terhenti akibat serangan kelompok Houthi.
Ketegangan geopolitik yang meningkat ini mendorong harga minyak lebih tinggi. Padahal, kenaikan harga energi merupakan salah satu pemicu utama inflasi yang membuat bank sentral enggan melonggarkan kebijakan moneternya.
Dua Data Inflasi yang Dinanti Pasar Hari Ini
Pelaku pasar bersiap menghadapi rilis data Indeks Harga Produsen (IHP/PPI) dan Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) AS yang akan diumumkan Rabu waktu setempat. Kedua data ini akan menjadi sinyal utama bagi arah kebijakan The Fed dalam beberapa pekan ke depan.
"Harga minyak yang lebih tinggi menjaga kekhawatiran inflasi tetap hidup, jadi IHP dan IHK AS pekan ini akan menjadi kunci dalam menentukan apakah imbal hasil akan melanjutkan kenaikan atau terkoreksi," ujar Christopher Wong, ahli strategi di Oversea-Chinese Banking Corp.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini tercatat di angka 59,4%. Angka ini menunjukkan pasar masih terbelah mengenai arah kebijakan moneter, sehingga data inflasi hari ini berpotensi mengubah ekspektasi secara signifikan.
Potensi Koreksi Tajam Jika Inflasi Di Luar Konsensus
Commerzbank memperingatkan bahwa ketenangan harga emas saat ini hanya menutupi potensi pergeseran tajam dalam pricing The Fed. Para ahli strategi bank asal Jerman itu menilai pasar masih berada dalam keseimbangan rapuh terkait prospek kebijakan September.
"Masih ada ruang yang cukup besar untuk koreksi dalam ekspektasi suku bunga jika data inflasi mengejutkan secara signifikan ke sisi atas atau sisi bawah," demikian pernyataan Commerzbank. Kondisi ini membuat emas sangat sensitif terhadap setiap penyimpangan dari konsensus.
Level Teknis yang Perlu Dicermati Investor
Pada grafik harian, XAU/USD berada sedikit di atas Simple Moving Average (SMA) 100 hari di kisaran US$4.345, namun masih diperdagangkan di bawah garis tengah Bollinger 20 hari di sekitar US$4.466. Relative Strength Index (RSI) berada di level 47, mengindikasikan momentum netral setelah aksi jual terbaru.
- Resistance terdekat: SMA Bollinger 20 hari di US$4.465. Penembusan di atas level ini membuka peluang menuju batas atas Bollinger di US$4.675.
- Support terdekat: SMA 100 hari di US$4.345. Jika tembus, batas bawah Bollinger di US$4.258 menjadi zona support berikutnya.
Investasi mengandung risiko.