Pencarian

Rocky Gerung Masuk Istana: Yang Berubah Rocky atau Cara Kita Melihatnya?

Sabtu, 03 Oktober 2026 • 16:24:00 WIB
Rocky Gerung Masuk Istana: Yang Berubah Rocky atau Cara Kita Melihatnya?

Opini - Keputusan Rocky Gerung masuk ke dalam Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) memunculkan reaksi yang cukup keras. Sebagian orang menyambut, sebagian lainnya kecewa, bahkan ada yang mengejek. Bagi mereka yang selama ini mengikuti Rocky sebagai salah satu pengkritik paling keras terhadap pemerintah, keputusan tersebut terasa seperti sebuah ironi. Orang yang selama ini berdiri di luar lingkar kekuasaan kini justru masuk ke dalam salah satu institusi yang berada dekat dengan Presiden.

Tetapi kalau kita berhenti pada kesimpulan bahwa “Rocky sudah berubah”, kita justru kehilangan persoalan yang lebih menarik. Sebab yang sedang terjadi bukan hanya perubahan posisi seorang Rocky Gerung. Ada perubahan hubungan antara seorang intelektual, kekuasaan, dan publik yang selama bertahun-tahun menjadikannya simbol perlawanan.

Rocky, bagi sebagian orang, sudah lama bukan sekadar Rocky. Ia telah menjadi simbol. Ia dianggap mewakili keberanian untuk mengatakan sesuatu yang tidak nyaman kepada kekuasaan. Cara bicaranya, kritik-kritiknya, bahkan kontroversinya telah membentuk sebuah citra yang sangat kuat: Rocky adalah orang yang berada di luar kekuasaan dan terus mengganggunya dengan kritik.

Karena itu, ketika Rocky masuk ke Wantimpres, yang terguncang bukan hanya penilaian terhadap dirinya, tetapi juga ekspektasi orang-orang yang selama ini menempatkan dirinya dalam posisi tertentu. Mereka merasa ada sesuatu yang tidak lagi sesuai dengan gambaran yang selama ini mereka percaya.

Di sinilah konsep sederhana dalam psikologi sosial, cognitive dissonance, menjadi menarik. Manusia cenderung mengalami ketegangan ketika kenyataan baru bertabrakan dengan keyakinan yang sudah lama terbentuk. Selama ini seseorang mungkin memegang keyakinan bahwa Rocky adalah simbol kritik terhadap pemerintah. Kemudian muncul kenyataan bahwa Rocky menerima posisi di dalam struktur kekuasaan. Dua hal tersebut terasa sulit dipadukan.

Dalam kondisi seperti itu, manusia biasanya mencari cara untuk mengurangi ketegangan tersebut. Salah satu caranya adalah mengubah penilaian terhadap objek yang dianggap menyebabkan kontradiksi. Maka lahirlah kesimpulan: Rocky sudah berubah, Rocky sudah pragmatis, Rocky sudah tidak seperti dulu, atau bahkan Rocky dianggap telah mengkhianati posisi yang selama ini ia bangun.

Padahal ada kemungkinan yang jauh lebih sederhana: yang berubah bukan prinsip Rocky, melainkan arenanya.

Selama ini Rocky mengkritik dari luar. Sekarang ia berada di dalam sebuah institusi yang memungkinkan dirinya memberikan pertimbangan langsung kepada Presiden. Dua posisi ini memang berbeda, tetapi perbedaan posisi tidak otomatis berarti perbedaan nilai.

Justru di sinilah kita perlu melihat kembali posisi seorang intelektual terhadap kekuasaan. Seorang intelektual tidak selalu harus berada di luar kekuasaan untuk mempertahankan sikap kritisnya. Persoalan yang lebih penting adalah apakah kedekatan dengan kekuasaan membuat kemampuan berpikir kritisnya hilang atau justru memberinya ruang baru untuk memengaruhi keputusan.

Dalam sejarah politik dan pemikiran, hubungan antara intelektual dan kekuasaan memang selalu rumit. Ada intelektual yang memilih menjaga jarak agar dapat menjadi pengawas dari luar. Ada pula yang memilih masuk ke dalam institusi karena merasa gagasannya akan lebih berguna jika dapat dibawa langsung ke tempat keputusan dibuat. Tidak ada hukum alam yang mengatakan bahwa salah satu posisi pasti lebih bermoral daripada yang lain.

Karena itu, menyebut keputusan Rocky sebagai tindakan pragmatis sebenarnya tidak otomatis merupakan kritik. Pragmatisme, dalam pengertian sederhana, adalah kemampuan membaca situasi nyata dan memilih cara yang dianggap paling memungkinkan untuk mencapai tujuan. Kalau seseorang selama bertahun-tahun menyampaikan kritik dari luar, kemudian mendapatkan kesempatan untuk memberikan pertimbangan langsung kepada pengambil keputusan, sangat masuk akal jika ia mempertimbangkan peluang tersebut.

Yang menjadi masalah adalah ketika pragmatisme berubah menjadi oportunisme. Tetapi perbedaan keduanya tidak dapat ditentukan hanya dari jabatan yang diterima. Kita harus melihat apa yang dilakukan setelah jabatan itu diterima.

Di sinilah Rocky sebenarnya sedang memasuki fase yang jauh lebih menarik. Selama berada di luar kekuasaan, ia memiliki kebebasan besar untuk mengkritik. Sekarang ia memiliki akses yang lebih dekat terhadap kekuasaan, tetapi sekaligus menghadapi konsekuensi baru. Kritik dari luar memiliki kebebasan, sementara kritik dari dalam memiliki akses. Pertanyaannya adalah apakah Rocky mampu mempertahankan kebebasan berpikir ketika ia sudah memiliki akses tersebut.

Kalau nanti ia tetap berani menyampaikan kritik ketika pemerintah mengambil kebijakan yang menurutnya keliru, bahkan ketika kritik itu tidak menyenangkan bagi Presiden, maka keputusan masuk ke Wantimpres dapat dibaca sebagai perpindahan arena. Ia tidak berhenti menjadi kritikus, tetapi memilih tempat yang berbeda untuk menjalankan fungsi kritiknya.

Sebaliknya, jika setelah masuk ke dalam kekuasaan kritik tersebut perlahan menghilang dan Rocky berubah menjadi pembenar setiap kebijakan pemerintah, publik tentu memiliki dasar empiris untuk mengatakan bahwa memang telah terjadi perubahan.

Karena itu, penilaian terhadap Rocky seharusnya tidak dilakukan berdasarkan satu peristiwa, yaitu pelantikannya. Kita harus melihat apa yang ia lakukan setelahnya.

Ada satu hal lain yang menurut saya penting untuk dibicarakan: publik sering kali terlalu mudah merasa memiliki tokoh yang mereka kagumi. Ketika seseorang menjadi simbol dari suatu sikap politik, pengikutnya sering lupa bahwa di balik simbol tersebut tetap ada manusia yang memiliki kehendak, kepentingan, pertimbangan, dan pilihan sendiri.

Rocky mungkin selama ini menjadi simbol keberanian bagi banyak orang. Tetapi menjadi simbol bukan berarti kehilangan hak untuk menentukan jalan sendiri. Kalau kita mengagumi Rocky karena ia berani berpikir bebas, maka konsekuensinya juga harus menerima ketika kebebasan berpikir itu menghasilkan pilihan yang tidak kita sukai.

Di sini terdapat sebuah ironi. Sebagian orang memuji Rocky karena dianggap tidak takut kepada kekuasaan, tetapi kemudian kecewa ketika Rocky mengambil keputusan politik yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Seolah-olah kebebasan berpikir hanya boleh digunakan selama hasil pikirannya sesuai dengan keinginan kita.

Padahal seorang intelektual justru menjadi tidak menarik ketika seluruh pikirannya sudah dapat diprediksi oleh kelompok yang mengaguminya.

Maka saya tidak melihat keputusan Rocky masuk Wantimpres sebagai sesuatu yang dengan sendirinya harus dipuji ataupun dicela. Keputusan itu harus dibaca sebagai sebuah pilihan politik yang konsekuensinya baru akan terlihat kemudian. Ia telah berpindah dari posisi pengkritik di luar menjadi seseorang yang kini berada lebih dekat dengan pusat kekuasaan. Perpindahan itu membawa peluang sekaligus risiko.

Peluangnya adalah ia memiliki akses langsung untuk menyampaikan gagasan dan kritik kepada pengambil keputusan. Risikonya adalah ia dapat kehilangan jarak kritis yang selama ini menjadi sumber kekuatan moral dan intelektualnya.

Di situlah Rocky sekarang diuji. Bukan pada keberaniannya berbicara ketika berada di luar kekuasaan, tetapi pada keberaniannya mempertahankan pikiran sendiri ketika ia sudah berada dekat dengan kekuasaan.

Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “Mengapa Rocky berubah?” Pertanyaan yang lebih menarik adalah: “Apa yang akan dilakukan Rocky setelah berada di dalam?”

Kalau ia tetap kritis, keputusan ini akan menjadi cerita tentang seorang intelektual yang memindahkan medan perjuangannya. Kalau ia berubah menjadi sekadar bagian dari legitimasi kekuasaan, maka publik akan memiliki alasan untuk menilai bahwa kedekatan itu telah mengubahnya.

Untuk sekarang, kita belum memiliki cukup bukti untuk mengambil kesimpulan. Dan mungkin memang tidak perlu terburu-buru.

Sebab seorang intelektual pada akhirnya tidak dinilai dari tempat ia duduk, melainkan dari apa yang ia katakan dan lakukan ketika berada di tempat tersebut.

Rocky sudah memilih kursinya. Sekarang tinggal kita lihat apakah kursi itu yang akan mengubah Rocky, atau justru Rocky yang mampu menggunakan kursi itu untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

 

Penulis : Saipudin Ikhwan, S.I.Kom, MA 

 

Follow news.nusaperdana.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks