NUSAPERDANA.COM — Proyek bensin dari batu bara (coal to liquid/CTL) yang digagas Presiden Prabowo Subianto dinilai sulit berjalan komersial tanpa subsidi atau insentif pemerintah. Penilaian ini muncul karena tingginya biaya modal dan energi proyek likuifaksi batu bara, terutama saat harga minyak mentah sedang rendah. Simak penjelasan pengamat energi berikut sebelum berharap banyak pada janji harga BBM murah dari batu bara.
Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) menilai rencana produksi bensin dari batu bara melalui teknologi likuifaksi atau coal to liquid (CTL) menghadapi hambatan ekonomi yang serius. Direktur Eksekutif Pushep Bisman Bakhtiar menyatakan produk bahan bakar minyak (BBM) dari batu bara akan sulit bersaing di pasar jika tidak ada dukungan fiskal dari pemerintah.
Persoalan utamanya bukan soal teknologi, melainkan struktur biaya. Proyek CTL menuntut investasi modal besar dan konsumsi energi tinggi di sisi produksi, sehingga harga jualnya kalah kompetitif dibandingkan BBM berbahan dasar minyak bumi.
Biaya Modal dan Energi Jadi Penghambat Utama
Menurut Bisman, dua komponen biaya itu membuat harga BBM hasil likuifaksi batu bara berada di atas harga pasar ketika minyak mentah dunia sedang murah. Kondisi tersebut membuat proyek sulit menarik pembeli tanpa intervensi negara.
"Untuk bersaing dengan BBM yang sudah ada sekarang, kalau tanpa subsidi dan jika harga crude oil sedang rendah, rasanya akan sulit. Ini tantangan terbesar karena biaya modal dan biaya energi dari proyek CTL sangat tinggi," ungkap Bisman saat dihubungi, Selasa (22/9/2026).
Ia menambahkan, satu-satunya jalan agar produk CTL bisa dijual tanpa subsidi adalah menekan biaya produksi hingga mendekati harga BBM dari minyak bumi. "Kecuali CTL mampu menekan biaya produksi hingga mendekati harga BBM minyak bumi," tambahnya.
Apa Itu Likuifaksi Batu Bara dan Mengapa Biayanya Mahal
Likuifaksi batu bara adalah proses mengubah batu bara padat menjadi bahan bakar cair yang bisa dipakai kendaraan. Proses ini memerlukan suhu dan tekanan tinggi, plus pasokan energi besar untuk menjalankannya.
Karena itu, biaya produksi per liter BBM dari batu bara umumnya lebih tinggi dibandingkan pengolahan minyak mentah konvensional. Selisih inilah yang membuat proyek CTL bergantung pada harga minyak dunia yang tinggi agar layak secara ekonomi.
Ketika harga minyak mentah rendah, seperti yang kerap terjadi dalam beberapa periode terakhir, produk CTL otomatis kalah bersaing. Pemerintah pun menghadapi pilihan sulit: menyubsidi harga jual, memberi insentif fiskal ke produsen, atau menunda proyek.
Dampak ke Konsumen dan Arah Kebijakan Energi
Bagi masyarakat, temuan ini berarti janji BBM murah dari batu bara belum tentu terwujud dalam waktu dekat. Jika pemerintah memilih memberi subsidi atau insentif, beban fiskal akan ditanggung anggaran negara, yang berarti uang pajak masyarakat.
Sebaliknya, jika proyek dijalankan tanpa dukungan fiskal, harga jual BBM hasil CTL berpotensi lebih mahal dari BBM biasa. Konsumen bisa memilih BBM konvensional yang lebih murah, sehingga produk CTL sulit menembus pasar.
Pemerintah belum mengumumkan skema subsidi, besaran insentif, atau jadwal produksi resmi untuk proyek ini. Informasi lebih lanjut mengenai kebijakan hilirisasi batu bara dapat diakses melalui kanal resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Waspadai Klaim Berlebihan Soal BBM Murah
Sejumlah pihak belakangan mengaitkan proyek CTL dengan janji harga BBM murah. Namun kajian Pushep menunjukkan proyek ini belum tentu menghasilkan harga jual rendah tanpa campur tangan pemerintah.
Masyarakat disarankan tidak mempercayai tawaran investasi atau janji keuntungan dari pihak tak resmi yang mengatasnamakan proyek likuifaksi batu bara. Sampai kini, belum ada skema investasi publik yang dibuka untuk proyek ini.
Jika ada informasi soal pendaftaran penerima manfaat, undian, atau kompensasi terkait proyek energi, pastikan mengecek langsung ke kanal resmi pemerintah. Jangan mentransfer uang atau menyerahkan data pribadi ke pihak yang mengaku sebagai calo atau perantara proyek.