PWI Bengkalis Silaturahmi dengan PN Bengkalis
Meramu Bahan Kimia Surfaktan untuk Rokan
Jumat Barokah Ala Satreskrim Polres Kampar, Makan Siang Gratis di Kafe Bersama Dhuafa
Nusaperdana.com, Kampar - Sudah berjalan setahun lebih, kegiatan Jumat Barokah Satreskrim Polres Kampar yang mengadakan makan siang gratis setiap hari Jumat untuk anak panti asuhan dan dhuafa terus berlangsung dan diminati warga.
Sama seperti kegiatan-kegiatan sebelumnya, Jumat siang ini (12/11/2021) Satreskrim Polres Kampar kembali mengadakan makan siang gratis di Kafe TSJ Kota Bangkinang, yang disiapkan untuk anak-anak panti asuhan, kaum dhuafa dan warga masyarakat.
200 porsi makanan dan minuman disiapkan untuk warga masyarakat yang ingin makan siang di Kafe TSJ ini. Namun untuk anak-anak panti asuhan, makanannya diantarkan ketempat mereka di Panti Asuhan Putra Muhammadiyah dan Panti Asuhan Putri Aisyiyah Kota Bangkinang, hal ini untuk mencegah kerumunan serta penerapan protokol kesehatan.
Seperti biasa pelaksanaannya dibagi dalam 2 sesi yaitu sebelum dan setelah pelaksanaan shalat Jumat, untuk sesi pertama diikuti petugas kebersihan kota, tukang becak dan warga setempat, kemudian sesi kedua setelah shalat Jumat diikuti oleh pengurus masjid dan warga masyarakat lainnya.
Salahsatu warga yang hadir dan mengikuti kegiatan Jumat Barokah ini, Ibu Siti Sahara selaku petugas kebersihan kota tampak senang bisa ikut makan siang ditempat ini. beliau mengucapkan terimakasih adanya kegiatan ini dan berharap kegiatan ini terus berlanjut setiap pekannya.(Redaksi)

Berita Lainnya
Sanusi Dukung KPK: Sumpah Gubri Wahid Harus Diuji di Pengadilan, Bukan Opini Publik
PWI Bengkalis Silaturahmi dengan PN Bengkalis
Meramu Bahan Kimia Surfaktan untuk Rokan
Diduga Serobot Lahan Sawit 50 Hektare, Lima Orang Dilaporkan ke Polres Kampar
Wujud Solidaritas Insan Pers, PWI Bengkalis Serahkan Bantuan Kemanusiaan melalui BAZNAS
Musyawarah Warga dan Kaur Desa Indra Sakti Berakhir Damai, Sengketa Perusakan Tanaman Temui Titik Terang
LBH CLPK Siap Laporkan Kaur Desa Indra Sakti, Musyawarah Buntu dan Pejabat Desa Mengaku Tidak Tahu
Kepala Desa Senama Nenek Diduga Jadi Dalang Konflik, Lahan 2.800 Hektare Dijadikan Arena Perebutan Kuasa