NUSAPERDANA.COM — Perempuan 33 tahun ini mungkin tidak pernah membayangkan wajahnya akan tampil dalam presentasi resmi FamilyMart, salah satu jaringan minimarket terbesar di Jepang. Ranisa Rahman, anak pertama dari empat bersaudara, hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang pindah ke Tokyo sejak November 2022. Latar belakang pendidikannya di S1 Ekonomi Syariah STEI Tazkia kini terasa jauh, tapi justru membawanya menjadi pusat perhatian publik Negeri Sakura.
Kebijakan Baru FamilyMart yang Mengundang Perdebatan
Semuanya bermula ketika FamilyMart meluncurkan Famima Code, kebijakan yang mengizinkan karyawan Muslimah mengenakan hijab saat bekerja. Aturan ini dijadwalkan berlaku di sekitar 16.500 gerai mulai 1 September, sekaligus memberi kelonggaran soal warna rambut karyawan.
Langkah ini disambut hangat oleh kelompok yang mendukung keberagaman tempat kerja. Namun, sebagian masyarakat Jepang justru menolak keras. Mereka menilai kebijakan itu merusak standar busana tradisional yang sudah lama melekat dalam budaya kerja Jepang. Bahkan politisi Shunsuke Yamashita ikut bersuara, mempertanyakan urgensi perubahan aturan demi pekerja asing.
Ranisa dan Gelombang Komentar Negatif di Media Sosial
Sebagai model berhijab dalam presentasi kebijakan tersebut, Ranisa otomatis menjadi sasaran komentar jahat. Para pendukungnya, termasuk sahabat yang mengaku bernama @zizisiregar di Threads, sempat pasang badan membelanya.
Namun Ranisa mengaku tidak terkejut dengan reaksi tersebut. Melalui pesan suara kepada Wolipop, Kamis (3/8/2026), ia menjelaskan bahwa sensitivitas netizen Jepang terhadap isu Muslim sebenarnya bukan hal baru. "Since banyak orang yang concern sama keadaan aku, sebenernya satu, aku udah menyangka, menduga hal ini, karena memang sebelum ini kita-kita udah merasakan, banyak merasakan sensitifnya orang-orang Jepang-walaupun nggak semua-di sosial media itu memang sensitif banget, isu orang Muslim dengan menggunakan hijab, jadi aku udah nggak heran," tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa kehidupannya sehari-hari di Jepang jauh dari kata mengkhawatirkan. "Saat ini aku ngerasa baik-baik aja, aku juga merasa aman, karena memang di Jepang itu kan hukumnya bagus banget ya, melindungi semua orang yang memang legal ada di Jepang, jadi aku baik-baik aja. Di daily life juga nggak ada yang gimana-gimana, semua nihonjin baik-baik aja, nggak ada yang kayak abuse atau kayak gimana itu nggak ada, cuma memang kalau di sosial media, itu ada banyak dan sudah dari lama, selain di sosial media, semua sampai dengan saat ini baik-baik aja, jadi nggak perlu khawatir gitu," jelasnya.
Mengenalkan Istilah 'Hijab' di Negeri Sakura
Di balik perdebatan yang ada, Ranisa justru melihat momen ini sebagai kesempatan edukasi yang berharga. Bagi masyarakat Jepang yang mayoritas tidak familiar dengan penutup kepala perempuan Muslim, kehadirannya menjadi jembatan pengenalan.
"Aku senang banget bisa dikasih kesempatan ini sama FamilyMart untuk menyebarkan pemahaman tentang hijab di Jepang. Mungkin bikin orang Jepang jauh lebih tahu, penutup kepala ini tuh namanya hijab, karena so far selama ini orang Jepang nggak tahu, penutup kepala ini namanya apa. Tapi since FamilyMart memberitahukan rules baru mereka terkait staff yang boleh kerja di FamilyMart-salah satunya boleh menggunakan kerudung-orang Jepang jadi jauh lebih tahu kerudung, hijab gitu, kata-kata hijab tuh mereka sekarang semenjak pemberitaan itu jadi banyak yang lebih aware," ungkapnya.
Pesan Ranisa untuk Perempuan dan Ibu di Indonesia
Dari pengalamannya ini, Ranisa ingin menunjukkan bahwa hijab seharusnya tidak menjadi penghalang bagi wanita Muslim untuk berkarya. "Hijab seharusnya tidak menjadi penghalang bagi wanita Muslim untuk mendapatkan kesempatan kerja atau berpartisipasi dalam kehidupan publik. Saya berharap langkah ini dapat memberikan rasa percaya diri yang lebih besar bagi wanita berhijab di Jepang," ujarnya.
Bagi ibu-ibu Indonesia yang mungkin merasa khawatir saat harus bekerja di luar negeri dengan identitas sebagai Muslimah, kisah Ranisa bisa menjadi pengingat bahwa perlindungan hukum yang jelas dan lingkungan yang menghargai keberagaman akan membuat kita tetap aman. Meski komentar negatif selalu ada di media sosial, dukungan dan rasa aman di kehidupan nyata jauh lebih berarti.