SMSI Inhil Ikut Momentum Nasional HPN 2026 di Banten
Patisipasi Dalam HPN 2026 di Banten PWI Bengkalis Ikuti Jalan Sehat
Dokter Spesialis Anak Tidak Ada, Ini Kata Kabid Pelayanan RSU Nurdin Hamzah
Nusaperdana.com, Muarasabak - Kosongnya dokter spesialis anak di Rumah Sakit Umum (RSU) Nurdin Hamzah Kabupaten Tanjung Jabung Timur ditanggapi oleh Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan, dr Affandi Amran. Ketika dikonfirmasi oleh awak media di ruang kerjanya, Ia mengatakan bahwa dokter spesialis anak terakhir bertugas pada bulan Juli 2019 lalu.
"Terakhir kita dapat dari kemenkes di bulan juli 2019. Kontraknya hanya setahun," katanya, Senin (25/2/2020) lalu.
Ia mengaku, jika dari pegawai negeri sipil (PNS), pihaknya tidak memiliki dokter spesialis anak. Dan untuk menghadirkan dokter tersebut, khususnya di RSU Nurdin Hamzah tidaklah mudah.
Menurutnya, pihak RSU Nurdin Hamzah bisa medatangkan dokter yang berasal dari tiga sumber. Yaitu bisa dari PNS, bisa dengan kontrak dan bisa melalui program kementrian kesehatan (Kemenkes).
"Kalau dari PNS kita memang tidak memiliki spesialis anak. Spesialis ini sudah susah kita mendapatkan. Kita sudah berapa kali mengajukan supaya dapat," terangnya.
"Kita sudah memberikan tempat, kita sudah menyiapkan uang sebesar lima belas juta untuk jasa profesinya," tambahnya.
Sehingga, lanjut Affandi, untuk mengatasi hal tersebut, penanganan terkait pengobatan yang membutuhkan dokter spesialis anak akan dihandle oleh dokter umum seperti dulu lagi.
"Di handle oleh dokter umum, kembali seperti dulu lagi. Kalau tidak mampu dokter umum dan butuh penanganan lebih lanjut langsung kita rujuk ke Jambi," katanya.
Sementara, Ia mengatakan presentase maksimal pasien anak yang dirujuk kerumah sakit lain tidak lebih dari 30 persen. Dan rata-rata pasien anak yang berobat ke RSU Nurdin Hamzah karena demam.
"Kalau presentase maksimal yang dirujuk itu paling 30 persen. Anak-anak itukan paling kebanyakan demam," katanya.
Kemudian Ia juga menyebut, pada prinsipnya, para dokter itu mempelajari seluruh ilmu, baik dokter umum atau dokter spesialis.
"Dokter spesialis itu awalnya dokter umum juga. Sama seperti yang lain, mereka belajar posisi normalnya, abnormalnya, terapinya, pemeriksaannya. Prinsipnya untuk penanganan simtomatis insha allah dokter sudah siap, tidak perlu cemas," pungkasnya. (ygo)

Berita Lainnya
SMSI Inhil Ikut Momentum Nasional HPN 2026 di Banten
HPN ke-80, Kabiro Nusaperdana.com Kampar Tegaskan Sengketa Pers Bukan Ranah Pidana
Menuntaskan S2 di Tengah Kesibukan Kerja, Belman Junaidi Buktikan Komitmen pada Pendidikan
Sat Reskrim Polres Inhil Bersama BPOM dan Disperindag Laksanakan Operasi Pasar Jelang Ramadhan 1447 H
Amir Luthfi Ucapkan Selamat HUT ke-76 Kabupaten Kampar
Kepala SMAN 2 Kampar Ucapkan Selamat HUT Kampar ke 76: Kampar di Hati
Dugaan Pupuk KCL Palsu di KUD Maju Jaya Tapung Menguat, LPPNRI Dorong Proses Hukum
Zumrotun Rayakan HUT Kampar Ke 76 dan HUT Gerindra Ke 18: Kampar di Hati, Kompak Bergerak Berdampak