Ragam Komentar Warga Inhil Tentang Efektifitas Masker Scuba

Masker Scuba

Nusaperdana.com, Indragiri Hilir - Persoalan efektifitas masker scuba dan buff untuk menahan droplet mencuat setelah PT Kereta Commuter Indonesia mengumumkan anjuran pemakaian jenis masker yang wajib dipakai oleh penumpangnya. Hal tersebut ternyata mengundang beragam komentar warga, khususnya warga Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Pro dan kontra pun muncul akibat kebijakan yang diterapkan oleh perusahaan plat merah yang bergerak di bidang jasa transportasi itu. Kemungkinan akan lahirnya kebijakan baru terkait penggunaan masker dengan jenis yang dianggap lebih efektif pun menjadi potensial.

Sebagian warga menyatakan sepakat dengan adanya pengaturan terkait jenis masker yang efektif digunakan guna mencegah penularan Covid-19, sebagiannya lagi justru sebaliknya. Seperti dikemukakan oleh Hendry, seorang warga Tembilahan Hilir yang bersepakat dengan penggunaan masker medis sebagai masker yang dinilai lebih efektif menahan droplet.

"Sepakat, karena menurut Saya pembuatannya dengan standar medis. Saya menilai juga lebih steril. Cuma mungkin agak berat bagi masyarakat karena harus beli tiap hari," kata Hendry, Sabtu (19/9/2020) sore.

Sementara, Muhammad Guntur, seorang warga Tembilahan Hulu mengaku heran dengan sikap pemerintah soal penggunaan masker, jika nantinya ada kebijakan baru tentang itu. Sebab, dulu diawal disarankan untuk menggunakan masker standar medis guna melindungi diri dari penularan virus. Lalu kemudian, diperbolehkan menggunakan masker jenis lain, seperti masker kain, scane dan buff karena dianggap mampu mencegah penularan. Belakangan, masyarakat dikagetkan lagi dengan isu anjuran dan larangan menggunakan masker scuba dan buff.

"Saya melihatnya pemerintah tidak benar-benar cermat dalam mengeluarkan anjuran atau aturan penggunaan masker. Selalu berubah-ubah, begitu juga soal regulasi lainnya yang berkaitan dengan Covid-19," ujar Guntur.

"Kita berharap pemerintah mengeluarkan aturan yang benar-benar punya landasan yang kuat terutama tentang kajian medisnya, sehingga tidak berubah-ubah," imbuhnya.

Di sisi lain, Guntur juga menyoroti aspek ekonomi dari penerapan kebijakan. Saat masker Scuba dan Buff diperbolehkan, dapat dilihat di pasaran para pedagang ramai menjual masker jenis Scuba dan Buff. Jika ini nanti dilarang, maka bisa dipastikan barang-barang itu tidak akan laku, efeknya adalah kerugian bagi para pedagang.

"Kita berharap apapun kebijakan yang pemerintah keluarkan haruslah konsisten, karena kebijakan pemerintah akan berefek pada banyak sektor, terutama Nyawa Manusia, jelas Guntur.

Menanggapi masalah efektifitas masker ini, Ketua Tim Medis Satuan Tugas Penanganan Covid-19, dr Alexis mengatakan, pemakaian masker kain untuk masyarakat sudah cukup. Bahkan, Dia mengatakan, yang terbaru bahwa dianjurkan masyarakat menggunakan masker kain 3 lapis.

Untuk masker jenis scuba, dikatakan dr Alexis, pemakaiannya diperbolehkan. Yang menjadi kekhawatiran hanya pada saat masker scuba meregang, pori akan membesar sehingga menjadi tidak efektif lagi menahan droplet.

"Saya baca, 2 sampai 3 lapis itu lebih baik. Tapi, yang terpenting adalah jika seorang memakai masker dan orang lain yang kita temui pun memakai masker dengan baik, itu lah yang sangat efektif," pungkasnya.

Selanjutnya, dr Alexis menganjurkan, pemakaian masker N95 yang dinilai paling efektif diperuntukan bagi petugas layanan kesehatan, terutama petugas kesehatan yang beresiko melayani pasien suspect atau dugaan Covid-19.

Alasannya, dikarenakan masker N95 dapat menyaring atau mencegah 95 persen partikel-partikel, baik debu halus, droplet atau percikan ludah yang mengandung bakteri maupun virus.

"Nah, memang kalau untuk standar menghadapi atau melayani pasien Covid-19 harus masker N95, tidak pakai masker bedah atau medis," papar dr Alexis.



[Ikuti Nusaperdana.com Melalui Sosial Media]



Tulis Komentar